Selamat Datang di situs berita online 'www.suarawengker.com' - info wilayah wengker - Email : suarawengker@gmail.com

"SUPER MOM MENDEM" (SUMBER PENYEMANGAT KELUARGA SEBAGAI MOM DALAM MENGHADAPI PANDEMI)

Oleh : ANNA RUSMIYATI, S. Sos, Pengajar : Mapel Sosiologi, SMAN 1 Pulung

Covid-19 merupakan suatu wabah yang pertama kali merebak di kota Wuhan sekitar bulan Desember 2019. Virus ini ditengarai penyebarannya dari hewan ke manusia dan manusia, kemudian berkembang menginfeksi manusia melalui saluran pernapasan. Virus ini sangat berbahaya dikarenakan penularannya melalui tetesan (droplets) pernapasan yang dikeluarkan oleh seseorang yang sedang batuk atau memiliki gejala lain, seperti demam atau kelelahan. Kehadiran Covid-19 yang secara mendadak menyebabkan permasalahan baru baik itu di bidang ekonomi, sosial, budaya, bahkan juga meningkatkan mortalitas. Sebuah studi terbaru menunjukkan potensi penularannya melalui udara. Dengan adanya proses penularan yang sangat cepat dan membahayakan bagi kehidupan membuat pemerintah segera mengambil tindakan mengeluarkan himbauan untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Di samping itu, pemerintah juga memberlakukan peraturan baru dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuan diberlakukannya PSBB adalah untuk membatasi sejumlah kegiatan warga masyarakat, seperti meliburkan sekolah, membatasi kegiatan di tempat umum, membatasi kegiatan sosial, membatasi moda transportasi, dan juga memperketat mobilitas warga untuk bepergian keluar kota. Langkah ini diambil dengan tujuan mempercepat penanganan masalah Covid-19.

Dengan diberlakukannya PSBB, ternyata membawa pro dan kontra di masyarakat. Kalangan yang menginginkan segera dipercepat penanganan masalah Covid-19 maka akan mendukung kegiatan tersebut. Tetap, bagi yang merasa dengan keberadaan PSBB malahmembuat kondisi menjadi memburuk, terutama berdampak pada perekonomian pasti akan menolaknya. Masyarakat yang berada di kelas menengah ke bawah menilai kebijakan tersebut sangat berat untuk diterapkan karena dapat menimbulkan dampak kerugian dan masalah sosial berkaitan dengan kesulitan mencari nafkah keseharian. Adanya keterbatasan akses untuk bekerja dan mengurangi aktivitas keluar rumah semakin memperburuk perekonomian keluarga.

Banyak kantor dan perusahaan yang harus meliburkan karyawannya dan melakukan aktivitas pekerjaannya dari rumah (Work From Home).

Sementara itu, banyak pabrik yang sedang memproduksi terpaksa juga harus merumahkan para pekerjanya karena selain pangsa pasar sepi, juga biaya produksi tidakmampu menutup biaya operasional pabrik. Bahkan yang lebih miris dari kejadian ini adalah banyak pabrik, hotel, toko, perusahaan, dan tempat perdagangan lainnya terancam gulung tikar.

Kegiatan yang mereka lakukan sebagian besar membutuhkan pasokan bahan baku produksi dari luar negeri maupun luar kota. Namun karena kehadiran Covid-19 ini, pasokan yang menjadi bahan utama produksi harus terhenti, eksport import juga terhambat, dan bisa dipastikan akan mengganggu finansial perusahaan dan para pekerjanya. Untuk mengatasimasalah finansial tersebut, maka beberapa perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja(PHK) terhadap pekerjanya. Dampak yang terjadi dari adanya PHK, yaitu semakin menambahjumlah pengangguran, tingkat kemiskinan melonjak, melemahnya daya beli masyarakat, danmeningkatnya tingkat kriminalitas.

*Ketahanan Keluarga*

Permasalahan yang muncul dari adanya Covid-19 ini tidak hanya pada sektor ekonomi,tetapi sektor keluarga juga ikut merasakan dampaknya. Di dalam keluarga sendiri ternyata masing-masing individu menjalankan peranannya. Ayah sebagai seorang suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya berperan sebagai pencari nafkah, pelindung dan pemberi rasa aman.

Ibu (Mom) sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya memiliki peran sebagai pengasuh,pendidik, pelindung dan bahkan dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. Sementara, peran anak adalah melaksanakan peranan psikososial sesuai dengantingkat perkembangannya baik secara fisik, mental, sosial, dan spiritual.

 Dengan adanya PSBB seperti sekarang telah menyebabkan terganggunya perekonomiansehari-hari dalam keluarga. Ayah yang berperan sebagai pencari nafkah tidak bisamelaksanakan peranannya karena peraturan tersebut. Sementara ibu (Mom) sebagai pihakpengatur keuangan keluarga juga tidak bisa membelanjakan kebutuhan untuk keluarganya. Di samping itu, karena adanya karantina mandiri selama pandemi berdampak sering munculnyamasalah pada hubungan keluarga. Semakin sering anggota keluarga bertemu, maka masalah pun akan semakin sering terjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, ketahanan keluarga baik itu dalam bidang ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan sedang dipertaruhkan. Bagaimana suatu keluarga mampu berjuang dan bertahan melawan krisis pandemi ini dengan segala kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Ketahanan keluarga mencerminkan kecukupan dan kesinambungan akses suatu keluarga terhadap pendapatan dan sumber daya agar mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti pangan, air bersih, pelayanan kesehatan, pendidikan,perumahan, partisipasi di dalam masyarakat, dan integrasi sosial. Ternyata selama pandemi ini banyak rumah tangga kehilangan pendapatan. Ketika seseorang atau anggota keluarga ada yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, maka berdampak besar dalam hal kebutuhan pangan. Bagaimanapun, jika PSBB diterapkan secara disiplin maka akan banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan akhirnya berdampak pada masalah sosial, yaitu pengangguran, kemiskinan, dan tindak kriminalitas.

Keluarga sebagai salah satu sistem sosial yang paling merasakan dampak adanya pandemi. Ayah sebagai kepala keluarga harus berjuang keras mencari nafkah. Harapannya tidak ada PHK dan pekerjaan bisa berjalan terus tanpa masalah. Bila ada PHK, maka akan menambah beban keluarga, terutama bagi ibu yang mengatur keuangan keluarga. Sosok seorang ibu dalam keluarga ternyata memegang banyak peranan penting. Ibu merupakan manajer keluarga, seorang pendidik, psikolog, juru masak, pelindung dan panutan, akuntan keluarga, dan juga sebagai seorang motivator. Itulah kehebatan wanita yang ditakdirkan sebagai istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Bagaimanapun, tidaklah mudah berperan sebagai seorang ibu yang harus memiliki kemampuan multi talenta di saat sekarang.

Menjadi seorang ibu yang kuat, tidak gampang mengeluh, tahan banting terhadap berbagai zaman itulah harapan ibu bagi keluarganya. Di kala suami yang bukan pegawai kantoran, hanya seorang ojek konvensional yang lagi menunggu penumpang di depan stasiun setiap malam dengan situasi penuh ketidakpastian kadang memberi harapan semu dalam keluarga. Pulang pagi tidak membawa hasil menjadi ujian berat bagi seorang ibu menyambut suaminya. Harus tetap berpenampilan ramah dengan senyum saat menyambut kepulangan suaminya yang saat itu tidak membawa hasil sepeserpun karena kondisi sepi dampak adanya PSBB. Di samping harus melayani kebutuhan suami dan anak-anaknya, sang ibu juga harus memutar otak agar bagaimana kebutuhan dapur tetap terpenuhi meski zaman sulit seperti sekarang. Tidak boleh mengeluh,berusaha mencari jalan, tetap berpenampilan manis walaua da masalah dan selalu mengutamakan kepentingan keluarga itulah ciri utama sebagai ibu.

Ibu (Mom) ibaratnya sebagai seorang manajer yang harus mumpuni dalam mengatur semua urusan rumah tangga. Dalam artian, beliau harus mampu mengatur dari semua urusan yang sepele, seperti menyapu dan mengepel lantai, mencuci dan menyetrika baju, memandikan anak-anaknya, hingga urusan yang rumit, seperti mengatur masalah keuangan dan menyatukan anggota keluarga yang memiliki perbedaan karakter. Tidak hanya itu, di zaman pandemi saat sekarang tugas ibu bertambah berat. Jika selama ini orangtua menyerahkan masalah pendidikannya ke sekolah, maka pada masa pandemi anak sekolah harus melakukan pembelajaran secara daring (dalam jaringan). Seorang ibu harus pandai membagi waktu,apalagi jika ibunya bekerja. Saat di tempat kerja, ibu berperan sebagai karyawan dimana beliau harus mampu menjalankan pekerjaan sesuai tuntutan dimana ia bekerja. Pada saat di rumah, ibu harus mampu berperan sebagai seorang guru (pendidik) dalam mendampingi anak￾anaknya belajar. Tanpa kenal rasa lelah seorang ibu akan menemani anaknya belajar, dimana tentu berbeda gaya pembelajaran di masa dulu dengan sekarang di era new normal.

Ibu (Mom ) Tangguh Berdasarkan beberapa responden yang ditemui oleh penulis, yaitu Ibu Lia menceritakan pengalamannya dimana harus berjuang menghidupi dan mendidik ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Dirasa hasil yang diberikan sang suami sebagai tukang ojek konvensional tidak mencukupi kebutuhan keluarga, akhirnya ibu ini rela bekerja di tempat tetangganya membantu catering. Alasannya selain sudah kenal dengan pemilik catering, ibu Lia juga bisa mengawasi dan mendampingi belajar serta bisa memberikan rasa sayang kepada anak-anaknya. Selain ibu Lia, ada juga Ibu Nia setelah ditinggal suaminya terpaksa berjualan es tebu demi menghidupi keluarganya. Dengan berjualan yang tidak menentu hasilnya, kadang ramai kadang sepi tetap tidak membuat Ibu Nia patah semangat. Siang pulang dari berjualan berganti mengurusi pekerjaan rumah. Saat malam tiba harus mendampingi anaknya belajar daring. Bagi yang memiliki anak masih duduk di tingkat sekolah dasar, ibu harus menjadi guru murni bagi anaknya. Mengapa? Karena di usia mereka yang masih kecil dan belum matang secara kedewasaan anak akan sulit diarahkan dan cenderung memiliki keinginan yang kuat.

Ibupun mau tidak mau juga harus ekstra belajar kembali dan menyesuaikan dengan gaya belajar anak. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan seorang ibu demi anak-anaknya yang masih kecil. Inilah perjuangan seorang ibu seutuhnya Di saat lelah menghampiri beliau, yang muncul malah semangat dan motivasi tanpa kenal dalam mendidik anaknya dengan harapan menjadi orang sukses di kemudian hariDi masa pandemi seperti sekarang ini, ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat, antara lain tekanan psikis pribadi dan keluarga, livehood (penghidupanekonomi berkurang, ketidakpastian masa depan, keterbatasan ruang psikologi pribadi akibat

berbagi ruang selama pandemi di rumah saja antara kondisi keluarga dan hubungan antar anggota keluarga. Suatu keluarga bisa diibaratkan sebagai suatu bangunan, dimana harus kuat pondasinya agar kokoh dan kuat dalam menghadapi segala tantangan. Jika pondasi dalam keluarga sudah kuat dan tidak mudah rapuh, maka tidak akan menimbulkan persoalan besar. Tetapi sebaliknya, jika pilar pondasi dalam keluarga sudah retak dan mudah rauh maka kalaupun terkena gempa bumi akan secara langsung merobohkan bangunan. Yang terjadi keberadaan dan fungsi keluarga menjadi hancur. 

Dalam mewujudkan ketahanan keluarga yang kokoh, salah satu yang memegang peranan penting adalah keberadaan seorang ibu. Sosok ibu memang sangat dinantikan, dimana harus terbangun secara seimbang antara peran sebagai seorang ibu sekaligus juga sebagai seorang istri. Bagaimanapun beratnya peran dan tugas yang harus dijalani seorang ibu ternyata tidak melemahkan semangatnya untuk selalu memberikan senyuman, kebahagiaan, dan kedamaian dalam keluarga. Bisa dibayangkan jika dunia tanpa kehadiran ibu?. Yang terjadi adalah dunia menjadi keras, penuh dengan amarah dan konflik. Akan menjadi lain ceritanya jika kehidupan ini dihadirkan sosok seorang ibu dalam keluarga. Ternyata hadirnya seorang ibu dengan penuh kelembutan, ketelatenan, dan kesigapan mampu memberikan warna tersendiri dalam dunia ini, terutama dunia dalam keluarga. 

Hadirnya seorang ibu dalam dunia pendidikan dapat menjadi contoh bagi putra￾putrinya. Ibu bisa menjadi panutan sekaligus contoh dalam penanaman nilai dan norma dalam keluarga. Di samping itu, keluarga sebagai lembaga sosial awal di masyarakat dalam membentuk sikap dan karakter individu. Disinilah peran ibu yang perlu menjadi perhatian penting. Secara ekonomi, dimana dengan hadirnya seorang ibu mampu mengatur keuangan keluarga menjadi lebih hemat dan menjaga tabungan keluarga agar tetap stabil sehingga bisa survive di masa pandemi. Di masa pandemi seperti sekarang, ibu bisa memberi nasehat untuk keluarganya agar tidak berlaku konsumtif dan mampu mengedepankan pemikiran mana barang yang perlu dibeli dan barang yang tidak perlu dibeli. Ibu juga berperan dalam mewujudkan keluarga yang sehat dan bersemangat. Dalam penyajian makanan yang bergizi dan sehat akan menjadi pengalaman dan tugas seorang ibu bagi keluarganya agar tercipta ketahanan tubuh yang kuat, sehat, dan selalu prima terutama di masa pandemi. Menjadi ibu bukanlah suatu keinginan, tetapi suatu takdir yang menempatkan seorang wanita yang telah memutuskan menikah dengan pasangannya. Maka, jadilah ibu yang berkualitas untuk keluarga, yaitu ibuyang selalu menebar kebaikan, memotivasi, dan menjalin komunikasi sehingga akan mampu mewujudkan pondasi membangun ketahanan dalam keluarga. 

DAFTAR PUSTAKA

1. Baharuddin, Andi Fahimah; 2019-nCov (Covid-19 melindungi Diri Sendiri dengan Lebih Memahami Virus Corona); Rapha Publishing, 2020

2. Druqman, Lisa; Mama Super Tetap Cihui, Keluarga Hepi; Fair Winds Group, 2017

3.https://mediaindonesia.com/read/detail/323946-ketahanan-keluarga-di-masa-pandemi(Anna/SW).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""SUPER MOM MENDEM" (SUMBER PENYEMANGAT KELUARGA SEBAGAI MOM DALAM MENGHADAPI PANDEMI)"

Post a Comment