Selamat Datang di situs berita online 'www.suarawengker.com' - info wilayah wengker - Email : suarawengker@gmail.com

BENTUK DAN MAKNA ESTETIKA PADA DHADAK MERAK REYOG PONOROGO DARI WAKTU KE WAKTU


Oleh :Heri Wijayanto, Alip Sugianto dan Ekapti Wahjuni DJ, Peneliti dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Ponorogo, Suarawengker-Dhadak Merak merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam kesenian Reyog Ponorogo. Dhadak Merak terdiri dari dua unsur yaitu barongan dan rengkek burung merak. Kedua hal tersebut menjadi kesatuan integral yang disebut dengan dhadak merak. Topeng ini mengalami perubahan yang cukup signifikan dari waktu ke waktu dilihat dari bentuk lama peninggalan masa colonial hingga saat ini, jika kita membandingkan dengan dhadak Merak model lama dengan sekarang ini cukup berbeda, seakan tidak percaya kalau keduanya merupakan produk yang sama. Dhadak Merak ini pada awalnya merupakan representasi dari kritik simbolik yang menceritakan sebuah pemerintahan jaman dahulu yang mana seorang pemimpin (raja) dikendalikan oleh permaisuri representasi dari burung merak.

*Bentuk Topeng Dhadak Merak dari Waktu ke Waktu*

Dhadak Merak diwujudkan dengan wujud campuran antara Harimau dan Merak tersebut, membentuk binatang khayal. Gambaran ini menunjukan gaya atau representasinya, tingkat abstraksinya, unsur yang direpresentasikan, atau disimbolkan. Pada awal kesenian Reyog, dhadak Merak masih bersifat sangat sederhana sebagaimana data tertua yang ditemukan sebagai berikut ini:

Gambar 1. Sketsa Ulang oleh tim peneliti (Kesenian Reog Pada Tahun 1920. Sumber:Collectie Tropenmuseum Derde bedrijf uit een dansvoorstelling met topeng waarin Kjai Goenoreso de tijger bedwingt TMnr 10004818.jpg)

Pada Gambar 1 menunjukan tentang dhadak Merak yang dimainkan oleh dua orang sebagaimana seokor Harimau yang memiliki kaki empat. Dalam dhadak Merak di atas memiliki nilai kosmologi keteraturan dimana dibuat oleh masyarakat jaman dahulu secara teratur sesuai bentuk Harimau pada umumnya. Pemeran dibelakang sebagai penganti kaki belakang Harimau dahulu dinamakan sebagai “Jegol”. Keberadaan jegol kini ditiadakan karena ada yang menganggap peran jegol kurang berarti dalam pegelaran.

Foto 2.  Sketsa Ulang oleh tim peneliti  (Reyog Ponorogo tahun 1930, sumber: Zindler, Leiden University Library)

Dampak dari pelarangan penjajah Belanda terhadap pentas Reyog Ponorogo dalam bentuk iring-iringan di jalan itu lalu melahirkan model pentas Reyog Kucingan. Dinamika demikian karena Reyog yang semula terdiri dari paduan kepala Harimau dan Dhadak Merak, paduan pembarong, kepala Harimau dan Dhadak Merak memiliki Ketinggian sekitar 2,5 meter. 

Perkembangan kesenian reyog pasca kemerdekaan Indonesia mengalami  pertumbuhan yang cukup signifikan. Hampir setiap di desa Ponorogo memiliki paguyuban kesenian reyog. Secara kuantitas organisasi perkumpulan reyog meningkat cukup baik. Tetapi kualitas belum menunjukan kemajuan. Namun sangat disayangkan, perkembangan kesenian reyog digunakan untuk kepentingan politik. Sehingga pada masa itu, hampir semua Partai Politik di Ponorogo menggunakan kesenian Reyog sebagai media meraih simpati massa dalam mendulang suara dan unjuk kekuatan ditengah-tengah massa yang lebih luas.

Foto 4: Sketsa Ulang oleh tim peneliti   Reyog Tahun 1954 saat Kampanye Badan Arsip Reyog Ponorogo

Mbah Wo Kucing yang memiliki nama asli Kasni Gunopati ini sebagai orang yang pertama kali menabuh kendang reyog pertama kali tampil, disaat para warok lainnya mulai  pensiun dari pentas kesenian reyog. Bangkitnya kesenian ini juga dengan ditandai saat tampil pada pembukaan acara (Pekan Olahraga Nasional) PON VII pada bulan Juli tahun 1969 di Surabaya dengan menampilkan 60 Reyog dibawah Koordinasi Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo. 

Foto 5. Sketsa ulang tim peneliti (sumber: Jongetje poserend bij de parafernalia voor Reog Ponorogo, te Jakarta ( Heins, E. 1982-8-31 via http://media-kitlv.library.leiden.edu/))


Pada masa orde baru dhadak Merak semakin menarik ada embog gombyok di bawah dhadak Merak serta ukuran dhadak Merak pun bentuknya semakin bervariasi baik ukuran tinggi, lebar dan ada pula kepala Harimau yang besar dan kecil, sebagaimana data foto dhadak Merak tahun 1980 model Dhadak Merak Reyog Ponorogo memiliki ukuran jauh lebih besar sekitar 2 meter lebih, serta memiliki berat kurang lebih 50 meter. Perubahan ini terjadi di beberapa tempat dan paguyuban Reyog Ponorogo, paguyuban Reyog satu dengan yang lain terkesan jor-joran dengan gedhen-gedhenan dhadak merak, semakin besar menunjukan semakin sakti dan kuat pemainnya, atau disebut juga mengandung unsur mistik. Semakin besar dhadak Merak menunjukan prestise sosial pembarongnya maka tidak jarang pada era dekade tahun ini banyak ritual-ritual dalam paguyuban Reyog Ponorogo. dalam dhadak Merak ini sudah mulai lengkap dengan keberadaan cohong burung Merak sehingga perpaduan dua binatang Harimau dan burung Merak jauh lebih jelas dan realis.(tim peneliti Unmuh Ponorogo/SW)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BENTUK DAN MAKNA ESTETIKA PADA DHADAK MERAK REYOG PONOROGO DARI WAKTU KE WAKTU"

Post a Comment