🔵 NEWS

HARGA MELONJAK, RAKYAT MENJERIT Krisis Pangan dalam Pusaran Ekonomi di Kota Ponorogo

 

Pasar Legi Ponorogo 

Di Kota Ponorogo, warung sate gule mulai mengalami penurunan pembeli. Bukan karena rasa makanannya berubah, tetapi karena masyarakat harus berpikir dua kali untuk membeli makanan di luar rumah. Ibu Huda, pemilik warung sate gule di Jalan Panglima Sudirman, Ponorogo, mengatakan bahwa dahulu warungnya mampu menghabiskan daging dari dua ekor kambing besar dalam sehari. Namun, sekarang satu ekor kambing bahkan baru habis dalam waktu tiga hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok mulai memengaruhi daya beli masyarakat.


Sejak awal 2025, harga sejumlah bahan pangan seperti beras, minyak goreng, telur, dan cabai di Pasar Ponorogo mengalami kenaikan. Sementara itu, pendapatan sebagian masyarakat, mulai dari pekerja migran yang pulang, ASN, pekerja swasta, hingga pedagang kecil, tidak mengalami peningkatan yang sebanding. Akibatnya, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran sehari-hari. Pertanyaan sederhana seperti “besok masak apa?” kini menjadi persoalan yang harus dipikirkan dengan serius.


Kondisi tersebut juga terlihat di pasar. Masyarakat yang sebelumnya mampu membeli beras dalam jumlah besar kini lebih memilih membeli secara eceran sesuai kemampuan. Ibu Hajah, pemilik toko sembako Ratna Sari yang berada di sebelah timur Pasar Songgolangit, mengatakan bahwa dahulu pembeli dapat membeli beras satu sak berisi 25 kilogram, sedangkan sekarang membeli lima kilogram saja terasa berat. Harga cabai rawit yang sempat mencapai Rp100.000 per kilogram dan minyak goreng sekitar Rp25.000 per liter semakin menambah beban masyarakat. Dalam perspektif sosiologi, keadaan ketika kebutuhan terus meningkat sementara kemampuan memenuhi kebutuhan terbatas dapat menimbulkan tekanan atau strain ekonomi.

Kenaikan harga pangan tidak hanya berdampak kepada pedagang dan ibu rumah tangga, tetapi juga pelajar, mahasiswa, seniman, dan petani. Anak pondok dan mahasiswa di Ponorogo harus mengurangi pengeluaran untuk makan agar uang mereka cukup untuk kebutuhan lain. Para penari Reog juga menghadapi kesulitan karena pesanan pertunjukan menurun, sedangkan biaya transportasi dan kebutuhan pertunjukan meningkat. Di sisi lain, petani di wilayah Sambit, Sawoo, Bungkal, dan Babadan menghadapi persoalan serupa. Harga pupuk dan biaya produksi meningkat, sementara hasil panen terkadang harus dijual dengan harga rendah. Ironisnya, setelah menjual hasil panen, mereka tetap harus membeli kebutuhan pangan dengan harga yang lebih mahal.

Tekanan ekonomi yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Ponorogo dikenal sebagai daerah yang memiliki semangat kebersamaan dan budaya tepo seliro. Namun, ketika kebutuhan hidup semakin sulit dipenuhi, tekanan ekonomi dapat memicu berbagai persoalan sosial, seperti konflik dalam keluarga, kesulitan biaya pendidikan, hingga meningkatnya kerawanan sosial. Antrean bantuan sosial dan sembako juga menjadi gambaran bahwa sebagian masyarakat semakin bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan kerja sama antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, Bulog, pedagang, petani, dan masyarakat. Pemerintah dapat melakukan operasi pasar murah secara rutin untuk menyediakan bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Pengawasan terhadap distribusi dan harga pangan juga perlu diperketat agar tidak terjadi penimbunan atau permainan harga. Selain itu, bantuan sosial harus diberikan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Dalam jangka panjang, pemerintah perlu membantu petani melalui subsidi pupuk, akses terhadap bibit berkualitas, bantuan teknologi pertanian, serta kepastian harga hasil panen. Pemerintah juga dapat memperkuat pasar lokal dan mempersingkat rantai distribusi agar harga pangan dari petani hingga konsumen tidak terlalu tinggi. Masyarakat juga dapat berperan dengan mengatur pengeluaran, mengurangi pemborosan makanan, serta mendukung produk dan pedagang lokal.


Ponorogo mungkin merupakan kota yang tidak sebesar kota-kota metropolitan, tetapi persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakatnya tetap nyata. Reog boleh gagah di atas panggung, tetapi jangan sampai masyarakatnya lunglai karena kesulitan memenuhi kebutuhan pangan di rumah. Kenaikan harga bukan sekadar persoalan angka di pasar, melainkan persoalan kesejahteraan, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, diperlukan langkah nyata dan kerja sama semua pihak agar masyarakat Ponorogo dapat kembali memenuhi kebutuhan hidup dengan layak.(Nad)

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment