-->

Iklan

Halaman

Tim Peneliti Unmuh Ponorogo adakan FGD Pentingnya Sistem deteksi Keaslian perangkat Reyog Ponorogo

25 October 2021, 10:26:00 PM WIB Last Updated 2021-10-25T15:43:54Z

 


Tim peneliti Unmuh Ponorogo bersama para narasumber 

Ponorogo, Suarawengker,- Tim penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi  Unmuh Ponorogo yang terdiri dari ketua Dr. Heri Wijayanto, MM., M.Kom, dengan anggota Dr. Alip Sugiyanto, M.Hum, dan Dra. Ekapti Wahyuni DJ, M.Si bekerja sama dengan Kementerian ristek Dikti adakan Focus Group Discussion (FGD ) dengan mengambil judul " Implementasi Digital marketing dengan sistem deteksi keaslian perangkat Reyog Ponorogo sebagai upaya mempertahankan nilai estetika dan pakem" , Dalam kegiatan FGD ini hadir sebagai narasumber dari yayasan Reyog Ponorogo Drs. Rido Kurnianto, M.Ag, sang maestro pembarong Reyog Ponorogo, yaitu: Wondho dan Wandhi, serta Edy Kurniawan, MT.,  selaku penangkar/peternak burung merak di Ponorogo yang sudah mempunyai ijin penangkaran.( Senin, 25/10/21)

Sang maestro Pembarong Reyog Wondho-Wandhi

Dalam Sambutannya ketua Penelitian Dr. Heri Wijayanto, mengatakan bahwa pada hari ini kita adakan diskusi yang terkait dengan reyog Ponorogo yang difocuskan pada Dhadak Merak yang merupakan perangkat yang paling dominan dalam kesenian reyog, sekaligus mempunyai nilai-nilai filosofis luhur. Perkembangan jaman (digital) saat ini, mengharuskan budaya adiluhung seperti halnya Reyog Ponorogo untuk mengikuti perkembangan jaman melalui digital marketing (sebagai media promosi, menjaga eksistensi, dan memasarkan), sebelum di pasarkan melalui digital marketing, perangkat reyog Ponorogo harus terstandarisasi, salah satunya dengan sistem deteksi keaslian perangkat, sistem ini sedang dikerjakan tim peneliti, yang nantinya akan diserahkan kepada Yayasan Reyog Ponorogo.  

Edy Kurniawan, ST., MT penangkar burung merak

"Kita juga menghadirkan di sini dari Yayasan reyog yang nantinya diharapkan bisa bekerja sama, atau menindaklanjuti yang ada di kegiatan  FGD ini, sekaligus sebagai wadah untuk menstandarisasi peralatan reyog Ponorogo yang akan dipasarkan, atau yang akan digunakan dalam pementasan, sehingga nilai-nilai pakem dapat terjaga, dan reyog Ponorogo bisa dikenal masyarakat internasional sebagai budaya yang asli dan mempunyai nilai-nilai luhur, "jelas Heri"

Sementara itu Drs, Ridho Kurnianto, M.Ag dari yayasan Reyog Ponorogo sangat menyambut baik terkait materi yang di bahas dalam FGD ini, Dikarenakan sudah banyaknya  karakter tidak sesuai dengan karakter Ponorogan.

"Saat ini kita juga masih mengurus terkait legalitas dari bulu merak yang di gunakan sebagai bahan untuk pembuatan dhadak Merak serta kulit Harimau yang merupakan bahan dari caplokan/kepala Harimau yang ada di Reyog Ponorogo, kedua bahan tersebut berasal dari binatang yang di lindungi maka legalitas harus dimiliki, baik perijinan penangkaran, maupun perijinan peredaran bulu Merak," jelas Rido

Yayasan reyog Ponorogo sangat mendukung dan menyambut baik terkait adanya kegiatan ini , pakem peralatan Reyog harus sesuai dengan pakem ponoragan jadi keaslian memang harus di pertahankan ,misalnya bagaimana bentuk topeng Kelono Sewandono, bagaimana topeng Bujang Ganong, tambah Rido.

Dalam kesempatan ini Dr ,Alip Sugianto juga memaparkan terkait asal usul dhadak merak dari tahun ke tahun, yang beredar di masyarakat hingga dadak merak yang beredar di  masyarakat  saat ini.

Mbah Wondho dan Mbah Wandhi sebagai maestronya pembarong tidak hanya berbicara tentang pakem pembarong, namun dengan trengginas dan lincah memperagakan tari Barong yang sesungguhnya. setiap gerak mempunyai makna dan arti, inilah esensi dari gerakan pembarong. Pembarong secara umum mempertontonkan gerakan karakter dua binatang, yaitu Harimau, baik cara berjalan, mencakar, meraung, melirik, dan merobek-robek mangsa, dan burung Merak yang menampilkan keolakan ketika terbang dengan gerakan tari seakan-akan burung Merak sedang terbang dengan mengibas-ibaskan bulunya. 

Pesan mbah Wondho kepada pembarong, kita ini dalam memperagakan gerakan dhadak merak harus dari hati, bukan semata kekuatan fisik, namun harus menghayati karakter dari Harimau dan burung Merak yang kita perankan, sehingga seakan-akan Harimau dan burung Merak itu hidup. dan bukan menampilkan Harimau yang hilang keganasannya karena egolan Jathil tanpa Eblek. 

Edy Kurniawan, MT, sebagai satu-satunya penangkar burung Merak di Ponorogo yang sudah mempunyai ijin, sekaligus dekan Fakultas Teknik UNMUH Ponorogo, menambahkan pentingnya melestarikan reyog Ponorogo melalui penyiapan kebutuhan bahan baku perangkat, yaitu bulu Merak yang menghabiskan 1.500 s/d 2.000 helai bulu Merak untuk pembuatan 1 Dhadak Merak, ini membutuhkan 5 sampai 6 burung Merak. mengkar burung Merak itu nguri-nguri budaya, sekaligus peluang bisnis yang menjanjikan. untuk pemenuhan kulit Harimau, beliau dengan tim peneliti Fakultas Teknik sudah merancang robot yang bisa melukis corak kulit Harimau diatas kulit Sapi, "imbuh Edy"(Tim  penelitian Unmuh/SW)

Komentar

Tampilkan

Terkini